Rabu, 17 Desember 2014
Selasa, 16 Desember 2014
ARTIKEL SAINS 1
Mengubah Kulit Menjadi Darah Manusia
Para ilmuwan menemukan
cara membuat darah dari kulit manusia dewasa.
Temuan terobosan tersebut bisa saja berarti bahwa ke depan, orang-orang yang akan membutuhkan darah untuk operasi, perawatan kanker atau perawatan penyakit lain yang berhubungan dengan darah seperti anemia, bisa mendapatkan darah yang dihasilkan dari sepotong kulit mereka sendiri untuk transfusi. Uji klinis kemungkinan bisa dimulai tahun 2012. Mick Bhatia yang merupakan direktur ilmiah McMaster's Stem Cell and Cancer Research Institute di Michael G. DeGroote School of Medicine beserta tim penelitinya juga menunjukkan bahwa konversi tersebut bersifat langsung. Membuat darah dari kulit tidak memerlukan langkah penengah yaitu mengubah sel punca atau sel induk kulit menjadi sel induk pluripoten yang bisa membuat banyak jenis-jenis sel manusia lainnya, kemudian mengubahnya menjadi sel induk darah. "Kami menunjukkan bahwa hal ini berhasil dilakukan dengan menggunakan kulit manusia. Kami tahu bagaimana cara kerjanya dan yakin bahwa kami bahkan bisa mengoptimalkan prosesnya," tutur Bhatia. "Sekarang kami terus bekerja mengembangkan tipe lain jenis sel manusia dari kulit karena kita sudah memiliki bukti yang meyakinkan." Demikian seperti yang dikutip dari Physorg (07/11/10).
Penemuan tersebut direplikasi beberapa kali selama lebih dari dua tahun menggunakan kulit manusia baik dari yang tua maupun yang muda untuk membuktikan bahwa hal tersebut bisa dilakukan pada orang-orang dari berbagai usia. "Temuan orisinil tersebut merupakan temuan pertama yang menunjukkan bahwa sel-sel kulit manusia dapat langsung dikonversi menjadi sel-sel darah melalui proses pemrograman tanpa melalui tahap pluripten. Menghasilkan darah dari kulit pasien itu sendiri memiliki potensi untuk menghilangkan masalah kecocokan serta kekurangan donor transplantasi sumsum tulang antigen leukosit manusia (HLA)," kata Christine Williams, PhD, Direktur Penelitian di Canadian Cancer Society Research Institute.
Sumber :
Penemuan
ini dipublikasikan di jurnal sains Nature 7 November 2010.
http://www.nature.com/news/2010/101107/full/news.2010.588.html http://sainspop.blogspot.com/2010/09/teknologi-laser-diagnosa-penyakit-tanpa.html
ARTIKEL SAINS 2
Atmosfer Bawah Bumi (Troposfer) Memanas
Troposfer yang
merupakan bagian atmosfer bawah paling dekat dengan Bumi sedang memanas yang
secara luas konsisten baik dengan dugaan teoritis maupun pemodelan iklim,
menurut studi ilmiah baru.
Foto:
Flickr
Studi tersebut dilakukan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan NOAA-North Carolina State University Cooperative Institute for Climate and Satellites (CICS). Sejak pengembangan pemodelan iklim pertama tahun 1960an, troposfer telah diproyeksikan memanas bersama permukaan Bumi karena peningkatan jumlah gas rumah kaca di atmosfer. Dugaan ini tidak secara signifikan berubah bahkan dengan berbagai kemajuan utama dalam pemodelan iklim. Demikian seperti yang dikutip dari Physorg (16/11/10). Namun pada tahun 1990an, berbagai pengamatan yang dilakukan tidak menunjukkan bahwa troposfer akan memanas walaupun temperatur permukaan memanas dengan cepat. Kekurangan pemanasan troposferik ini digunakan oleh beberapa pihak untuk menanyakan baik realitas tren pemanasan permukaan maupun reliabilitas pemodelan iklim sebagai instrumen. Studi NOAA yang berjudul "Tropospheric Temperature Trends: History of an Ongoing Controversy" secara ekstensif meninjau kembali analisa ilmiah relevan dan menemukan bahwa tak ada lagi bukti ketidaksesuaian mendasar dan bahwa troposfer sedang memanas. "Dengan melihat pada perubahan temperatur troposferik yang diamati dan dugaan pemodelan iklim selama ini, bukti sekarang mengindikasikan bahwa tak ada hal ketidaksesuaian mendasar setelah memperhitungkan ketidaktentuan baik dalam pemodelan maupun pengamatan," kata Peter Thorne yang merupakan ilmuwan senior CICS di Asheville, North Carolina serta peneliti senior di NC State. "Melihat ke masa depan, hanya dengan beragam observasi dan analisis data yang penuh semangat kita bisa berharap untuk secara memadai memahami tren temperatur troposferik," kata Dian Seidel yang merupakan ilmuwan NOAA di Air Resources Laboratory di Silver Spring, Maryland. Makalah tersebut yang ditulis bersama dengan para peneliti dari NOAA, NOAA-NCSU Cooperative Institute for Climate and Satellites, the United Kingdom Met Office, dan Universitas Reading di Inggris, diterbitkan di Climate Change. Walaupun ini merupakan tinjauan komprehensif pertama literatur ilmiah tersebut dalam pokok pembicaraan ini, hal tersebut bukanlah pernyataan akhir terhadap tren temperatur troposferik.
Sumber :
http://news.ncsu.edu/releases/troposphere/
http://sainspop.blogspot.com/p/fisika.html
ARTIKEL SAINS 3
Koneksi Otak Macet Seiring Usia
Hal ini tak dapat
dihindarkan: kemacetan koneksi di otak
memperlambat waktu respon fisik kita ketika kita bertambah tua,
menurut penelitian baru.
Reaksi yang lebih lambat ini terhubung dengan gangguan yang terkait dengan usia pada corpus callosum yang merupakan bagian otak yang berfungsi sebagai bendungan selama gerakan motorik satu sisi untuk mencegah koneksi yang tak diinginkan atau komunikasi silang antara kedua belahan otak, kata Rachael Seidler yang merupakan profesor di Universitas Michigan School of Kinesiology dan Bagian Psikologi, dan yang merupakan ketua penelitian itu, seperti yang dilansir pada tanggal 19 Agustus 2010 oleh ScienceDaily. Pada waktu lain, fungsi corpus callosum sebagai jembatan dan komunikasi silang, bermanfaat seperti dalam fungsi-fungsi kognisi tertentu atau keahlian motorik dua sisi. Penelitian Universitas Michigan ini merupakan yang pertama menunjukkan bahwa komunikasi silang terjadi bahkan ketika orang dewasa tua sedang beristirahat, kata Seidler yang juga mengambil bagian di Program Studi Lanjut Institut Gerontologi dan Neurologi. Komunikasi silang yang tidak bekerja ini menunjukkan bahwa tidaklah bermanfaat bagi kedua belahan otak untuk berkomunikasi selama pergerakan motorik satu sisi karena sisi otak yang lain mengontrol bagian tubuh yang sedang bergerak. Maka, ketika kedua sisi otak berkomunikasi secara bersamaan sementara satu sisi tubuh mencoba untuk bergerak, akan terjadi kebingungan dan respon yang lebih lambat, kata Seidler. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa komunikasi silang dalam otak selama aktifitas motorik meningkat seiring usia tapi tidaklah jelas jika komunikasi silang membantu atau menghalangi fungsi otak, kata Seidler. "Komunikasi silang bukanlah sebuah fungsi kesulitan aktifitas karena kita melihat perubahan pada otak ketika orang tidak bergerak," kata Seidler. Pada beberapa penyakit di mana corpus callosum sangat mengalami kemunduran seperti pada orang-orang yang menderita sklerosis multipel, anda bisa melihat "pergerakan kembar" selama aktifitas motorik satu sisi, di mana kedua sisi bergerak bersama karna ada banyak komunikasi antara kedua belahan otak, kata Seidler. Pergerakan kembar ini juga secara normal terjadi pada anak-anak yang masih sangat muda sebelum corpus callosum berkembang dengan sempurna.
Pada penelitian itu, para
peneliti memberikan tuas kendali pada orang dewasa berumur antara 65 dan 75
lalu mengukur dan membandingkan waktu respon mereka dengan kelompok usia 20-25
tahun. Para peneliti kemudian menggunakan Pencitraan Resonansi Magnetik untuk
memetakan kadar oksigen darah di berbagai tempat di otak, dengan kata lain
pengukuran aktifitas otak. "Lebih banyak mereka menggunakan sisi otak
lainnya, lebih lambat mereka merespon," kata Seidler. Namun ada harapan,
penuaan yang tak terelakkan bukan berarti sudah menjadi nasib kita untuk
bereaksi lebih lambat. Seidler dan timnya tengah mengerjakan studi pengembangan
dan pengontrolan latihan motoris yang mungkin bisa membangun kembali atau
menjaga corpus callosum untuk membatasi arus berlebihan antara kedua
belahan otak, katanya. Studi sebelumnya yang dilakukan oleh tim lain
menunjukkan bahwa melakukan latihan aerobik selama tiga bulan membantu
membangun kembali corpus callosum, katanya, yang menunjukkan bahwa
aktifitas fisik bisa membantu mengimbangi efek-efek degenerasi yang terkait
dengan penuaan. Seidler dan timnya juga merevisi studi yang mengunakan teknik
pemetaan otak untuk memeriksa penyakit yang terkait dengan perubahan otak pada
pasien-pasien yang menderita penyakit parkinson.
Sumber :
Studi itu diberitakan di jurnal Frontiers
in Systems Neuroscience.
http://sainspop.blogspot.com/p/fisika.html
Langganan:
Komentar (Atom)



